Ketika Hati Tak Lagi Rindu

“Ali RA rindu melihat para sahabat dengan wajah pucat karna menghidupkan malam. rinduku tak jauh beda, aku rindu melihat wajah-wajah haus ilmu duduk dalam lingkar kita. Juga rindu melihat kalian menanti-nantikan satu hari dalam seminggu untuk duduk dalam lingkar kita.”

Kisah 1

Sebutlah namanya Abdullah berumur sekitar 17 tahun, tinggal di kota kecil dengan jarak 3 jam dari ibu kota provinsi. Ayahnya pergi meninggalkan keluarga (dengan alasan tak jelas) sebelum Abdullah lulus SMA, sedangkan ibunya hanya bergaji 500rb perbulan. Ia baru saja lulus dari sebuah Islamic boarding school di ibukota provinsi. Karna baru lulus, halaqoh rutin yang biasa diadakan di sekolahnya belum dipindahkan ke kota tempat tinggalnya. Setiap minggu Abdullah harus menempuh jarak 180km dengan ongkos 40rb PP hanya untuk mengikuti program Halaqohnya. baginya hari liqo, bertemu dengn teman-teman dan ustadz adlah hari yang paling dinantikannya setiap minggu. Hari itu adalah hari pertemuan rutin mingguan Abdullah, tapi ia tidak bisa hadir dan mengirimkan pesan singkat pada ustadznya

“assalamu’alaikum, afwan ustadz, ana minja ijin tidak bisa hadir kajian mingguan kita. ustadz, tidak akan ada yang bisa menghalangi ana liqo kecuali masalah keuangan, afwan ustadz” Ternyata hari itu Abdullah benar-benar tidak punya uang untuk ongkos untuk pergi halaqoh.

Kisah 2

Seorang bapak berumur 28 tahun dengan 3 putri yang masih kecil. Bapak ini telah aktif berdakwah sejak menjadi mahasiswa. Satu-satunya kendaraan yang dimilikinya adalah sebuah motor GL PRO yang dibelinya seken. Setiap minggu ia harus mengisi kajian yang jaraknya 5 jam dari tempat tinggalnya. tapi tak pernah sekalipun ia absen. Bahkan satu saat istrinya terkejut, si bapak pulang kerumah dengan lecet-lecet disekitar badannya, ternyata si bapak kecelakaan dalam perjalanannya mengisi kajian. Tapi tidak mematahkan niatnya untuk tetap mengisi kajian pada hari itu.

Saya hanya ingin berbagi dua kisah ini, ini bukan kisah karangan saya. Tapi memang itulah kejadiannya. Merinding membacanya? Apakah yang membuat mereka rindu dengan pertemuan mingguan mereka sehingga menjadikan itu prioritas? Mereka meyakini bahwa yang mereka jalani, menempuh jalan yang panjang adalah sebuah ibadah. Mereka rindu majlis-masjlis ilmu. Rindu melihat wajah-wajah saudara selingkar yang haus akan ilmu. Luar biasa energi ikhlas dan kesungguhan itu mengalir kuat dalam darah mereka.

Nah mari bercermin pada diri kita, kita tidak harus mengeluarkan ongkos yang besar dan menempuh jarak yang panjang untuk menghadiri kajian mingguan kita. tapi kita sering mencari udzur untuk ini. “afwan ustadz, ana kecapekan tadi malam baru pulang dari luar kota” atau “afwan ustadzah ada acara di kampus, ana tidak bisa hadir liqo kita hari ini.” Seringkan? Sering mencari uzdur dan dibuat seolah-olah sangat syar’i. dan sayapun pernah melakukannya. Astaghfirullah!

Hari ini agenda mingguan tak lagi kita rindukan, apakah sebab? Tanyalah pada diri masing-masing. Padahal pertemuan mingguan kita adalah ibarat batu bata pertama dalam bangunan tarbiyah ini. Bagaimana mungkin bangunan ini akan kokoh, sedangkan batu-batanya tak tersusun rapi? Hmmmm jawab sajalah sendiri

Hari yang diberkahi, Jum’at 24 juni 2011

Sesaat setelah isya

Iklan

4 thoughts on “Ketika Hati Tak Lagi Rindu

  1. >kisah 1, b^-^d mantap!
    >kisah 2, lecet2nya berkah.. mnjadi saksi prjuangan dakwah..

    liqo’, satu2nya alternatif bagi seorg muslim utk kmbali merapatkn shaf serta memupuk kerinduan kpda Rabb nya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: