cerita tentang pemilik wajah cahaya

Seseorang bertanya padaku, seperti apa orang tua ideal menurut nadya, apakah ayah dan ummi sudah ideal dimata nadya?
Jujur saja ketika mendapat pertanyaan ini, langsung terbayang dua wajah cahaya dikampung kecil sumatera bagian barat, lengkap dengan istana putih kami. Aku lantas menjawab “absolutely, both of them sangat ideal dimata saya”. Setelah pertemuan singkat dengan seseorang sore itu, aku menderita homesick sedang, hehe..
Saya berusaha mengingat ke idealan mereka berdua, ummi dan ayah adalah orang dengan mobilitas lumayan tinggi, mempunyai 6 orang putra dan putri (yang aku yakin sangat mereka cintai). Dan saya adalah sulung dari 6 orang itu. Sewaktu saya masih SD dan 3 orang adik lainnya masih kecil, hari libur tidak kami habiskan dirumah, melainkan di tempat-tempat ummi dan ayah menimba ilmu agama atau mengerjakan tugas-tugas dakwah mereka, mungkin ini salah satu trik mereka memperkenalkan kami sejak kecil dengan kegiatan yang mereka geluti. Pun ketika saya pulang sekolah, saya sering menyempatkan diri untuk menjemput saya ke sekolah walau tak sesering orang tua lainnya. Ayah adalah orang yang paling cemas bila aku sakit disekolah, menggendongku ke mobil ketika aku pingsan disekolah. Aku selalu menyimpan ingatan itu.
Sedangkan ummi, ummi adalah orang yang suka bercerita banyak hal, tentang kisah para nabi (ini yang sering membutku menangis haru ketika kecil), atau si perkasa pembunuh 500 nyawa (kalau ini cerita rekaan ummi sendiri, sampai-sampai adik yang paling kecil masih diceritakan ini). Ayah dan ummi membentuk putri-putri kecilnya dengan baik, walau waktu yang kami punya tidak sebanyak anak-orang tua lain. Satu hal yang paling ku ingat adalah, kemanapun ayah pergi oleh-oleh untukku adalah novel, beberapa judul yang kuingat Faris dan haji obet, Pangeranku, Serenade biru dinda,putri kejawen dll.

Masa SMP ayah setiap pagi mengantarku kesekolah. Bincang-bincang kami di mobil selama 30 menit perjalanan itu yang sangat aku rindukan sampai saat ini. Kami berbincang tentang apa saja, sekolahku, rencana-rencana kegiatan hari itu, berita-berita terhangat pun kami bincangkan.
Masa SMA, aku mulai dibekali sepeda motor, kata-kata yang selalu diucapkan ummi setiap pagi adalah, “jangan ngebut, pakai jacket, perjalananmu jauh”, lagi-lagi ku membandel, sengaja berangkat beberapa menit menjelang jam 7 padahal bel sekolahku jam 7.15, dan perjalanan ke sekolah dengan kecepatan sedang 25-30 menit. Alhasil jika berangkat jam segitu aku pasti akan ngebut, 70-80 km per jam dan tidak memakai jacket (padahal aku tinggal dipegunungan), astaghfirullah, maafkan saya ummi ayah. Aku pernah kecelakaan ketika akan berangkat ke sekolah, mereka yang kebetulan mengendarai mobil dibelakangku langsung membawa ke RS, aku ingat wajah cemas mereka saat itu. Karna kesibukan organisasi di SMA ataupun terlalu lama dirumah teman, aku sering pulang lewat jam 6, dan ayah adalah orang yang selalu memastikan aku harus dirumah jam 6. Pernah aku pulang dirumah jam 6.15, ayah telah berdiri didepan garasi menunggu kepulanganku. Lagi-lagi ini cerita tentang kebandelan-kebandelan yng kulakukan. Ketika aku ingin belajar bersam teman-teman pada malam hari *jaraknya 20 menit dari rumah, aku selalu merengek pada ayah untuk mengijinkanku menggunakan motorku, tapi ayah tak pernah mengijinkan. Ayah rela mengantarku dan menunggu sampai jam 09.30 malam.

Ketika pengumuman PMDK perguruan tinggi keluar, ummi langsung memelukku dan menangis, anaknya akan pergi jauh darinya. Dan ayah yang mengantarku kesini, Medan yang ramah. Ketika ayah balik ke Sumbar, aku tau raut wajahnya seakan ingin mengeluarkan airmata, tapi aku tau ayah terlalu gengsi untuk menangis didepanku. Waktu itu ayah mencandaiku dengan meninggalkan sarung yang biasa dipakainya untuk sholat, “biar nadya ga sakit kalo ga ada ayah.”

Beberapa bulan lalu aku sakit, sebenarnya tidak ingin memberi tahu mereka, aku tak ingin membuat mereka khawatir. Tapi apa daya, aku harus diopname di RS, ummi datang, melayani semua keperluanku, membersihkan muntahku, mengantarkan ke kamar mandi, mencucikan pakaianku, menyuapiku makan, menyenandungkan al-Qur’an ditelingaku *aku selalu rindu suara tilawah itu. Menangis ketika mendengarkan dokter mengatkan bahwa aku harus transfusi darah dan dimasukkan ke ICU. Ummi yang meyakinkan dokter agar aku tidak perlu di ICU, agar ia tetap bisa disampingku..duh bunda, tak akan pernah terbalas!

Jika dihitung ayah dan ummi lebih banyak menghubungiku daripada aku yang menghubungi mereka. Sesibuk-sibuknya mereka, ayah dan ummi selalu ada waktu untuk kami anak-anaknya.

Both of them ideal dimataku, hanya saja aku belum menjadi putri yang ideal dimata mereka, Maafkan nadya ayah-ummi.

Iklan

2 thoughts on “cerita tentang pemilik wajah cahaya

  1. Asw…….
    Hmmmm……
    Wjud dari Rasa Terima Kasih Seorang Anak Pada Kedua Orang Tuanya…..
    ……. Amazing……
    Ttg adik gag ad kak…??? :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: