Ketika Hati Tak Lagi Rindu

“Ali RA rindu melihat para sahabat dengan wajah pucat karna menghidupkan malam. rinduku tak jauh beda, aku rindu melihat wajah-wajah haus ilmu duduk dalam lingkar kita. Juga rindu melihat kalian menanti-nantikan satu hari dalam seminggu untuk duduk dalam lingkar kita.”

Kisah 1

Sebutlah namanya Abdullah berumur sekitar 17 tahun, tinggal di kota kecil dengan jarak 3 jam dari ibu kota provinsi. Ayahnya pergi meninggalkan keluarga (dengan alasan tak jelas) sebelum Abdullah lulus SMA, sedangkan ibunya hanya bergaji 500rb perbulan. Ia baru saja lulus dari sebuah Islamic boarding school di ibukota provinsi. Karna baru lulus, halaqoh rutin yang biasa diadakan di sekolahnya belum dipindahkan ke kota tempat tinggalnya. Setiap minggu Abdullah harus menempuh jarak 180km dengan ongkos 40rb PP hanya untuk mengikuti program Halaqohnya. baginya hari liqo, bertemu dengn teman-teman dan ustadz adlah hari yang paling dinantikannya setiap minggu. Hari itu adalah hari pertemuan rutin mingguan Abdullah, tapi ia tidak bisa hadir dan mengirimkan pesan singkat pada ustadznya

“assalamu’alaikum, afwan ustadz, ana minja ijin tidak bisa hadir kajian mingguan kita. ustadz, tidak akan ada yang bisa menghalangi ana liqo kecuali masalah keuangan, afwan ustadz” Ternyata hari itu Abdullah benar-benar tidak punya uang untuk ongkos untuk pergi halaqoh.

Kisah 2

Seorang bapak berumur 28 tahun dengan 3 putri yang masih kecil. Bapak ini telah aktif berdakwah sejak menjadi mahasiswa. Satu-satunya kendaraan yang dimilikinya adalah sebuah motor GL PRO yang dibelinya seken. Setiap minggu ia harus mengisi kajian yang jaraknya 5 jam dari tempat tinggalnya. tapi tak pernah sekalipun ia absen. Bahkan satu saat istrinya terkejut, si bapak pulang kerumah dengan lecet-lecet disekitar badannya, ternyata si bapak kecelakaan dalam perjalanannya mengisi kajian. Tapi tidak mematahkan niatnya untuk tetap mengisi kajian pada hari itu.

Saya hanya ingin berbagi dua kisah ini, ini bukan kisah karangan saya. Tapi memang itulah kejadiannya. Merinding membacanya? Apakah yang membuat mereka rindu dengan pertemuan mingguan mereka sehingga menjadikan itu prioritas? Mereka meyakini bahwa yang mereka jalani, menempuh jalan yang panjang adalah sebuah ibadah. Mereka rindu majlis-masjlis ilmu. Rindu melihat wajah-wajah saudara selingkar yang haus akan ilmu. Luar biasa energi ikhlas dan kesungguhan itu mengalir kuat dalam darah mereka.

Nah mari bercermin pada diri kita, kita tidak harus mengeluarkan ongkos yang besar dan menempuh jarak yang panjang untuk menghadiri kajian mingguan kita. tapi kita sering mencari udzur untuk ini. “afwan ustadz, ana kecapekan tadi malam baru pulang dari luar kota” atau “afwan ustadzah ada acara di kampus, ana tidak bisa hadir liqo kita hari ini.” Seringkan? Sering mencari uzdur dan dibuat seolah-olah sangat syar’i. dan sayapun pernah melakukannya. Astaghfirullah!

Hari ini agenda mingguan tak lagi kita rindukan, apakah sebab? Tanyalah pada diri masing-masing. Padahal pertemuan mingguan kita adalah ibarat batu bata pertama dalam bangunan tarbiyah ini. Bagaimana mungkin bangunan ini akan kokoh, sedangkan batu-batanya tak tersusun rapi? Hmmmm jawab sajalah sendiri

Hari yang diberkahi, Jum’at 24 juni 2011

Sesaat setelah isya

Gerbang-gerbang

Gerbang 1
Gerbang 2
Gerbang 3
Gerbang 4
Gerbang 5
Gerbang 11
Gerbang 14
Gerbang 17
Gerbang 19

*diasumsikan untuk mencapai 1 gerbang dibutuhkan waktu 1 tahun
Selamat melewati gerbang 19
Selamat mengukir hari dalam perjalanan menuju gerbang 20

=9 JUNI 1992-2011=

HIDUPMU

Dan hidupmu
Ia adalah rangkaian cerita
Antara kau, aku, kita dan mereka

Dan hidupmu
Ia adalah cerita tentang masa
Letupan-letupan gembira dan bulir-bulir kesedihan

Dan hidupmu
Lagi-lagi ia bertutur tentang cita
Tentang mimpi dan draft kasar kehidupan

Dan hidupmu
Adalah indie film tersusun sempurna
Kau lakonnya, aku lakonnya, kita dan mereka lakonnya

Dan hidupmu
Salah satu episodenya adalah tentang do’a sederhanaku
Do’a atas keselamatanmu
Do’a keberkahan atasmu

Dan hidupmu
Episode selanjutnya adalah tentang untaian indah syukurmu
Tentang selaksa puji mu pada Rabbmu

Teruntuk adik tersayang
Moga apa yang digariskan sesuai dengan inginmu
Jika pun tidak, moga yang digariskan jauh lebih indah dari inginmu
Beberapa jam memasuki hari jum’at, 1:35 am

Mari Sambut Adek Baru

31 mei- 1 juni adalah jadwal pendaftaran mahasiswa baru 2011 jalur undangan di USU, bertempat di Gelanggang mahasiswa USU. Agenda tahunan setiap universitas ini tidak hanya ribet buat mahasiswa baru tapi kakak-kakak dan abang-abang senior jauh lebih ribet, apalagi yang tergabung dengan ormawa. Yang organisasi keagamaan ada, organisasi kedaerahan ada yang datang sekedar menyemak pun ada ( medan mode on).

Kali ini saya ingin berbagi sedikit cerita tentang semangat menyambut adik-adik baru di ini,

  • Hari pertama

Hari pertama, banyak banget yang daftar. Rata rata MABA berdatangan di hari pertama. Saya dan beberapa teman ikut dalam euphoria menyambut mahasiswa baru. *tapi ga separah senior2 yang lain yang ambisi banget nanyain adek-adeknya. Sampai sia adek-adek ketakutan. Contohnya gini :

Puluhan abang-abang mulai stambuk (ini istilah angkatan kalo di medan) tua sampai sambuk muda bejejer sebelah kiri dan kanan di depan pintu keluar tempat pendaftaran MABA. Masing-masing bawa karton, ada FKG, teknik, pertanian, urang awak, rantau prapat, dll. Nah pas si adek keluar ruangan langsung dicecar pertanyaan

Abg 1: dek, FKG dek?
Abg 2: urang minang dek?
Abg 3: pertanian dek?
Abg 4 : kimia S1 dek?
Abg 5 : ilkom dek?
Abg 6,7,8 : dsb (saya lupa mereka nanya apa, hehe)

Nah kalo si adek menjawab iya dari salah satu pertanyaan diatas langsung diungsikan buat dimintai data-datanya. Kalau si adek jawab fakultas bukan salah satu diatas akan dijawab, langsung kebelakang dek, ada itu kakak nya (dengan logat medan yang kental). Nah, kemarin itu ada adek-adek yang ketakutan dan setiap ditanya, ia menggelengkan kepala. Untungnya saya dulu pas baru masuk gak ketemu dengan orang-orang ini. Waktu mendaftar dulu saya langsung diungsikan oleh seorang senior baik hati ke stan KAMMI. Kalau saya jadi anak barunya, saya juga pasti kebingungan, karna yang nanya kaya gitu bukan satu orang, tapi puluhan yang mengerubungi 1 orang anak baru.

  • Cerita hari ke 2

Saya dan beberapa teman sampai di gelanggang mahasiswa jam 8 am dengan kondisi belum sarapan pagi. Dan disana juga ada beberapa teman dari organisasi lain. Tapi hari ini kami semua kurang beruntung, karna kalau dihitung paling Cuma ada 15 orang MABA yang mendaftar hari ini. Kalau yang nunggu, wah jangan ditanya, masuk hitungan 50 orang lebih kurang.

 
Nah, kenapa ya mereka (termasuk kita) semangat banget menanti dan meminta data anak-anak baru ini. Tak lain dan tak bukan adalah untuk dakwah fardiyah. Mereka dengan dakwah (ajakan) mereka dan kita untuk dakwah kita memperkenalkan adek baru kepada islam di kampus ini

Kita tak mau mereka seperti ini kan?

Orang-orang diluar kita yang tujuan mereka untuk senang-senang aja segitunya mengorbankan waktu libur mereka, sedang kita yang jelas untuk dakwah islam tak semangat? Apa kata dunia?
 

salam Pencinta langit
1 juni 2011, 12am kurang 2 menit

 

 

 

 

pelangi

 

Biru
Bincang kita tak pernah jauh dari biru
Seakan tau semua tentang biru

Tapi kita lupa
Pelangi tak hanya biru
Merah, jingga, kuning, hijau, nila, ungu
Kita lupa berbincang tentang warna lain pelangi…

Salam pencinta langit
30 Mei 2011, 6:37 am
Kamar atas
“mari menghargai perbedaan”

 

preman hafal qur’an

Alhamdulillah, kali ini ana ingin mengisahkan kehidupan seseorang, yang insyaallah kita bisa mengambil banyak pelajaran dari kisahnya. Kisah singkat ini adalah kisah nyata tentang seorang sahabat ana, sahabat qarib, ana juga sering bertukar pikiran dengannya. Darinya ana mendapat banyak motivasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari, kehidupannya, dia telah membuktikan bahwa kunci tercapainya sebuah tujuan, adalah tekad yang kuat, qowiyyul ‘azm. Selanjutnya diserahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Namanya Muaz Abdul Hafizh (nama samaran). Ia terlahir dari sebuah keluarga tarbiyah, dari kecil ia selalu ditanamkan nilai-nilai aqidah, dan semuanya sangat berpengaruh terhadap pemahamannya tentang islam sejak kecil. Ia pernah menurunkan sebuah foto dari dinding rumahnya, bibinya lah yang selalu mengaitkannya lagi kedinding. Namun karena terlalu sering, bibinya sudah lewat jenuh sehingga tidak mau lagi mengaitkan foto itu, Muaz berkata “Selama masih ada tangan berarti bisa, Kenapa tidak? Untuk apa Allah menciptakan tangan?” Pertanyaan itu ia lontarkan saat berumur 3 tahun yang membuat bibinya menangis terharu. Adiknya juga pernah berkelahi dengan temannya, temannya bilang “Saya akan panggil abang saya!”, adiknya tidak mengatakan bahwa ia akan memanggil abangnya Muaz, melainkan “Saya akan minta tolong sama Allah!”.

Muaz adalah anak yang cerdas sejak kecil, karena kecerdasannya ia dibenci banyak teman-temannya, ditambah lagi ia tidak mau memberi contekan dalam ulangan maupun PRnya. Ini membuat dirinya setiap pulang sekolah, sering dikeroyok oleh teman-temannya. Kondisi seperti itu membuatnya ingin mencari perlindungan atau bodyguard. Sebelumnya, Muaz juga menderita penyakit Kleptomania, yaitu kecenderungan untuk mengambil barang orang lain atau mencuri. Disamping itu, dakwah abinya yang tidak disukai oleh sebagian orang di komplek perumahannya, membuat dia sering diolok-olok oleh masyarakat. Lagi-lagi faktor lingkungan membuatnya kembali berfikir untuk mencari proteksi atau bodyguard. Tak lama kemudian ia mendapatkan partner sebagai perlindungan, seorang preman, sehingga dari lingkungan barunya ia mendapatkan kebiasaan baru pula, yaitu merokok. Kebiasaannya merokok ditambah lagi dengan penyakit kleptomania yang dideritanya, ia tidak hanya sering mencuri uang abinya, bahkan tetangganya. Itupun tidak hanya ribuan, puluh ribuan, bahkan ratusan ribu banyaknya. Hubunganya dengan masyarakat dan interaksinya dengan teman-temannya yang nakal sangat mempengaruhi kepribadiannya.

Abi dan Ummi Muaz sudah bosan menasehatinya dengan beragam cara, dari yang paling lembut hingga yang paling kasar karena Muaz merokok. Puncaknya saat SD menjelang UN, Abinya membakar kaki Muaz dengan alasan agar tahu bagaimana panasnya api neraka yang jauh lebih panas dari api dunia. Luka bakarnya sangat menyakitkan. Tapi Muaz pernah bilang “Prosesnya yang paling
menyakitkan”. Tidak ada temannya yang tau kalau kakinya dibakar, Muaz mengaku menginjak bara saat ditanya temannya, karena dia ke sekolah mengenakan sandal. Muaz justru semakin down, UNnya pun menjadi berantakan. Setelah UN, ia memiliki banyak waktu kosong. Saat itulah teman-temannya mencoba menjerumuskannya. Muaz diajak menonton film porno oleh preman-preman, itupun tidak hanya sekali, bahkan berulang kali!

Kecenderungannya dalam mencuri semakin menjadi-jadi, Muaz pernah mencuri uang penjual es, jumlahnya sampai ratusan ribu. Muaz melakukannya bersama teman-temannya dan dirinya sebagai eksekutor. Mereka ketahuan karena salah seorang teman membocorkannya lantaran sakit hati padanya. Betapa kaget Abi dan Ummi Muaz ketika mendengar kasus ini. Abinya kehilangan cara untuk merubahnya. Akhirnya, dibuatlah skenario dengan polisi yang datang dan memanggil Muaz. Saat itu Muaz sangat ketakutan dan berhenti merokok maupun mencuri, tapi hanya untuk beberapa waktu. Tak lama kemudian, lanjut lagi. Lebih parah lagi, ia pernah membobol sebuah rumah dan mencuri uangnya. Yang satu ini tidak ketahuan, namun uang yang dicurinya itu sudah digantinya beberapa waktu setelah itu. Hingga datanglah hidayah itu melalui sampainya informasi tentang Perguruan Islam Ar-Risalah, Muaz tertarik karena ia melihat ada ekstrakurikuler Beladiri. Lagi-lagi dengan alasan sebagai sarana proteksi diri. Tapi pikirannya berubah tidak mau bersekolah di Ar-Risalah, sampai Abinya memaksa hingga dia mau.

Jadilah dia bersekolah di Ar-Risalah, generasi pertama, meskipun begitu Muaz masih melanjutkan kebiasaan merokoknya. Tapi ia tidak melakukannya di sekolah, melainkan di rumah saat libur. Sejak Muaz bersekolah di Ar-Risalah, dia sudah mulai menemukan jati dirinya, sudah mulai menyadari bahwa dia benar-benar sedang hidup di dunia, dan memahami hakikat perjuangan dalam kehidupan. Apalagi saat pertama kalinya belajar tentang tauhid, tafsir, dan hadits bersama ustadz-ustadz yang subhanallah, rasa takut yang amat sangat menampar hatinya ketika bercerita tentang neraka dan siksaan di dalamnya. Akhirnya ia termotivasi untuk mulai menghafal al-Quran sejak ia mengetahui bahwa orang yang hafal Quran diberi karunia untuk dapat memberi syafa’at dan pasti masuk surga. Muaz lebih termotivasi lagi ketika dirinya sudah bisa menghafal surat an-Naba. Semua itu terjadi secara bertahap. Karena hidup yang ia jalani di saat SD, membuat Muaz menjadi orang yang bertemperamen keras, menjadi anak yang nakal, suka membantah dan sangat kritis. Sampai-sampai ada guru yang membencinya.

Muaz terus menambah hafalannya karena iri kepada teman-temannya di kelompok tahsin yang levelnya lebih tinggi, padahal hafalan mereka lebih rendah darinya. Hingga di tahun itu juga dia sudah menamatkan juz 30 dan awal surat al-Baqarah. Hingga sampai kelas 2 SMP, murabbi tahsinnya beralih ke ustadz Irsyad Safar, Muaz makin termotivasi karenanya. Sehingga hafalannya meningkat sampai 2,5 juz, hafalan sebanyak itu merupakan hafalan tertinggi diantara semua teman-temannya yang membuatnya malas menambah hafalan sebab tak lagi ada saingan. Disamping hafalan Muaz yang banyak, ia juga nakal, sangat nakal. Bahkan ada temannya yang menyatakan “Percuma saja hafalannya banyak, tapi akhlaqnya seperti itu”. Perkataan itu membuat Muaz makin malas dan sifat berontaknya mulai muncul. Klimaksnya saat ia mengajak teman-temannya untuk berdemo dengan mengajukan, ustadz yang ia benci dan dibenci sebagian besar siswa dikeluarkan. Dan benar, di kelas 3 SMP, ustadz tersebut keluar. Hingga Ar-Risalah sudah cukup terkenal di kalangan masyarakat, dan Muaz ditawarkan untuk mengikuti MTQ yang membuatnya kembali termotivasi.

Seiring waktu berlalu, Ar-Risalah sudah memasuki tahun ke 4, dan telah dibuka MA Ar-Risalah. Disini ana pertama kalinya masuk Ar-Risalah dan untuk yang pertama sekali bertemu dengan Muaz. Ana pernah bertanya kepada teman-teman, siapa hafalannya yang paling banyak, semua mengatakan Muaz. Ana ingin bertanya langsung kepadanya, saat ana tanya. Ia mengaku hafalannya 5 juz, padahal saat itu hafalannya sudah 10 juz lebih. Murabbi tahsinnya bertukar lagi ke ustadz April Hidayat, seorang hafizh Quran 30 juz. Awalnya Muaz merasa bangga saat mengatakan ke Murabbi tahsinnya, bahwa ia muraja’ah hafalan satu juz per hari. Ternyata murabbinya bilang “1 juz itu bukan muraja’ah namanya, kalau hafalan sudah 10, muraja’ahnya 5 juz sehari..”. Muaz makin termotivasi, ia bisa memuraja’ah hafalan hingga 5 juz per hari. Dan hafalannya meningkat dari 10 juz menjadi 20 juz. Ia bertekad agar saat berumur 17, harus sudah hafizh. Ketika dirinya kurang bermuraja’ah, Muaz merasa ada yang menjanggal di hatinya, merasa ada yang tidak enak, sehingga perasaan itu diobatinya dengan bermuraja’ah. Akhirnya ia sangat jarang merasa malas dalam memuraja’ah hafalannya.

Ada peristiwa menarik yang dialaminya, peristiwa menjelang ia hafal Quran 30 juz. Saat itu hari senin, semua siswa Ar-Risalah berpuasa, shoum senin-kamis. Sebelum shalat zhuhur setelah shalat sunnah, ustadz Irsyad bertanya kepada Muaz “Ila ayyi juz’in antal aan?” (sudah sampai juz berapa antum sekarang?), karena siang hari Muaz merasa lapar dan tidak konsentrasi, Muaz menjawab “Tis’ah wa ‘isyriin” (29). Wajah ustadz berubah kaget dan bertanya lagi “Tis’ah wa i’syriin? Hafizhta kullah?” (sudah 29? Berarti antum sudah hafal semuanya?). Muaz hanya mengangguk dan tidak banyak respon, karena yang ia maksud adalah 19, bukan 29. Ketika shalat, ia terpikir kenapa sampai ustadz begitu terkejut, baru ia sadar, ternyata yang diucapkannya tadi “‘Isyriin”, bukan “‘Asyar”. Sepanjang shalat Muaz berdo’a agar ustadz lupa dengan jawabannya tadi, ternyata tidak, malah sebaliknya. Berita itu langsung hangat dikalangan para ustadz. Ia malu dan ia merasa harus mempertanggungjawabkan jawabannya itu. Oleh karena itu, Muaz sangat bersungguh-sungguh untuk menambah hafalan. Hingga dalam jangka waktu satu bulan, Muaz berhasil menamatkan hafalannya hingga 30 juz, saat kelas 1 MA.

Caranya, ia membedakan jadwal antara menambah hafalan dengan muraja’ah keseluruhan hafalannya. Ia sengaja bangun jam 3 setiap pagi untuk menambah hafalan, dan dilanjutkan ba’da subuh. Sepulang sekolah Muaz melanjutkan menambah hafalan ba’da ashar. Sedangkan waktu muraja’ahnya ialah hari jum’at, sabtu, dan minggu. Ia berkomitmen melaksanakannya hingga Allah memudahkan setiap langkahnya. Dan sesuai janji Allah, bila ada seorang yang hafal Quran, orangtuanya akan dipasangkan mahkota kehormatan di surga. Jangan bayangkan mahkota yang biasa tergambar di dunia. Kotak penyimpan cambuk hewan tunggangan milik penduduk surga saja, lebih mahal dan lebih berharga daripada dunia dan isinya, apalagi mahkota kehormatan yang ada di surga.

Setelah hafal al-Quran, ana yang bertanya kepadanya tentang bagaimana perasaannya saat ini dan keuntungan yang ia rasakan, ia kirim melalui email, “Hal-hal yang ana rasakan dari manfa’at menghafal alquran adalah, ana tidak terlalu sulit untuk menghafal dan memahami pelajaran, sehingga waktu ujian tiba, ana tetap konsisten dengan target muraja’ah, maka pelajaran itu menurut saja. Jika ana melakukan suatu kesalahan, hati ana akan langsung merasa ana telah melakukan kesalahan dan merasa ditegur, setelah itu akan datang musibah-musibah kecil seperti jatuh, luka, kehilangan barang-barang, yang ana yakini penghapus dosa-dosa kecil itu, wallahu a’lam. Juga ana tidak pernah merasa ada masalah finansial, walaupun orang tua ana agak kesulitan dalam maslah ekonomi, ada saja rezki yang datang”.”maka pelajaran itu menurut saja” hal ini telah dibuktikannya, ia tak pernah meleset dari ranking 1 di kelasnya selama 3 tahun MA. Juga disaat ujian untuk melanjutkan studi ke Mesir, penguji bertanya ke seluruh peserta yang terdiri dari berbagai macam sekolah, siapa yang sudah hafal al-Quran? Menunjuk dua orang termasuk Muaz, dan alhamdulillah yang satu lagi seorang siswi dari sekolah yang sama, Ar-Risalah.

Pengalaman ana pribadi, ada masa-masa “sakau” dalam menghafal Quran, sangat kecanduan. Rasanya sungguh rugi jika waktu ini terlewat tanpa adanya hafalan yang bertambah. Bahkan ketika mambaca buku-buku islami pun, terlintas di pikiran “Seandainya waktu membaca buku dari tadi ana gunakan untuk menghafal Quran, sudah berapa lembar yang bisa ana hafal ya?”.

“Waaaah… Rasanya mustahil ana bisa hafal al-Quran” Buang jauh-jauh paradigma seperti itu… Ikhwah semua hanya perlu memulai, memulai dengan tekad yang kuat dan serius. Karena juga ada orang yang memiliki tekad kuat namun tidak serius menjalaninya, atau cepat berputus asa. Langkah-langkah awal memang lebih sulit, tetapi ada masanya dimana menghafal itu terasa sangat mudah, bahkan antum bisa mengatur frekuensi bertambahnya hafalan.

Jadi apa yang kita tunggu? Mari mulai melangkah dari sekarang!!!

disadur dari blog seorang yang belum dikenal, hehehe Ahmad imaduddin

AKU PLAGIAT

Tutur langit atas imanmu
Cerita bumi tentang teguhmu
Duhai pemilik hati Muhammad
Kagumku atas pribadimu

Agung nian dirimu ya ummu sulaim
Maharmu adalah imannya Abu thalhah
Cerita tentang ikhlasmu mempesonaku
Lagi-lagi, kagumku atasmu

Dan aku….
Hanyalah Seorang plagiat
Hanya plagiat Amatiran
Plagiat teguhmu, khadijah
Dan ikhlasmu, ummu sulaim

cerita tentang pemilik wajah cahaya

Seseorang bertanya padaku, seperti apa orang tua ideal menurut nadya, apakah ayah dan ummi sudah ideal dimata nadya?
Jujur saja ketika mendapat pertanyaan ini, langsung terbayang dua wajah cahaya dikampung kecil sumatera bagian barat, lengkap dengan istana putih kami. Aku lantas menjawab “absolutely, both of them sangat ideal dimata saya”. Setelah pertemuan singkat dengan seseorang sore itu, aku menderita homesick sedang, hehe..
Saya berusaha mengingat ke idealan mereka berdua, ummi dan ayah adalah orang dengan mobilitas lumayan tinggi, mempunyai 6 orang putra dan putri (yang aku yakin sangat mereka cintai). Dan saya adalah sulung dari 6 orang itu. Sewaktu saya masih SD dan 3 orang adik lainnya masih kecil, hari libur tidak kami habiskan dirumah, melainkan di tempat-tempat ummi dan ayah menimba ilmu agama atau mengerjakan tugas-tugas dakwah mereka, mungkin ini salah satu trik mereka memperkenalkan kami sejak kecil dengan kegiatan yang mereka geluti. Pun ketika saya pulang sekolah, saya sering menyempatkan diri untuk menjemput saya ke sekolah walau tak sesering orang tua lainnya. Ayah adalah orang yang paling cemas bila aku sakit disekolah, menggendongku ke mobil ketika aku pingsan disekolah. Aku selalu menyimpan ingatan itu.
Sedangkan ummi, ummi adalah orang yang suka bercerita banyak hal, tentang kisah para nabi (ini yang sering membutku menangis haru ketika kecil), atau si perkasa pembunuh 500 nyawa (kalau ini cerita rekaan ummi sendiri, sampai-sampai adik yang paling kecil masih diceritakan ini). Ayah dan ummi membentuk putri-putri kecilnya dengan baik, walau waktu yang kami punya tidak sebanyak anak-orang tua lain. Satu hal yang paling ku ingat adalah, kemanapun ayah pergi oleh-oleh untukku adalah novel, beberapa judul yang kuingat Faris dan haji obet, Pangeranku, Serenade biru dinda,putri kejawen dll.

Masa SMP ayah setiap pagi mengantarku kesekolah. Bincang-bincang kami di mobil selama 30 menit perjalanan itu yang sangat aku rindukan sampai saat ini. Kami berbincang tentang apa saja, sekolahku, rencana-rencana kegiatan hari itu, berita-berita terhangat pun kami bincangkan.
Masa SMA, aku mulai dibekali sepeda motor, kata-kata yang selalu diucapkan ummi setiap pagi adalah, “jangan ngebut, pakai jacket, perjalananmu jauh”, lagi-lagi ku membandel, sengaja berangkat beberapa menit menjelang jam 7 padahal bel sekolahku jam 7.15, dan perjalanan ke sekolah dengan kecepatan sedang 25-30 menit. Alhasil jika berangkat jam segitu aku pasti akan ngebut, 70-80 km per jam dan tidak memakai jacket (padahal aku tinggal dipegunungan), astaghfirullah, maafkan saya ummi ayah. Aku pernah kecelakaan ketika akan berangkat ke sekolah, mereka yang kebetulan mengendarai mobil dibelakangku langsung membawa ke RS, aku ingat wajah cemas mereka saat itu. Karna kesibukan organisasi di SMA ataupun terlalu lama dirumah teman, aku sering pulang lewat jam 6, dan ayah adalah orang yang selalu memastikan aku harus dirumah jam 6. Pernah aku pulang dirumah jam 6.15, ayah telah berdiri didepan garasi menunggu kepulanganku. Lagi-lagi ini cerita tentang kebandelan-kebandelan yng kulakukan. Ketika aku ingin belajar bersam teman-teman pada malam hari *jaraknya 20 menit dari rumah, aku selalu merengek pada ayah untuk mengijinkanku menggunakan motorku, tapi ayah tak pernah mengijinkan. Ayah rela mengantarku dan menunggu sampai jam 09.30 malam.

Ketika pengumuman PMDK perguruan tinggi keluar, ummi langsung memelukku dan menangis, anaknya akan pergi jauh darinya. Dan ayah yang mengantarku kesini, Medan yang ramah. Ketika ayah balik ke Sumbar, aku tau raut wajahnya seakan ingin mengeluarkan airmata, tapi aku tau ayah terlalu gengsi untuk menangis didepanku. Waktu itu ayah mencandaiku dengan meninggalkan sarung yang biasa dipakainya untuk sholat, “biar nadya ga sakit kalo ga ada ayah.”

Beberapa bulan lalu aku sakit, sebenarnya tidak ingin memberi tahu mereka, aku tak ingin membuat mereka khawatir. Tapi apa daya, aku harus diopname di RS, ummi datang, melayani semua keperluanku, membersihkan muntahku, mengantarkan ke kamar mandi, mencucikan pakaianku, menyuapiku makan, menyenandungkan al-Qur’an ditelingaku *aku selalu rindu suara tilawah itu. Menangis ketika mendengarkan dokter mengatkan bahwa aku harus transfusi darah dan dimasukkan ke ICU. Ummi yang meyakinkan dokter agar aku tidak perlu di ICU, agar ia tetap bisa disampingku..duh bunda, tak akan pernah terbalas!

Jika dihitung ayah dan ummi lebih banyak menghubungiku daripada aku yang menghubungi mereka. Sesibuk-sibuknya mereka, ayah dan ummi selalu ada waktu untuk kami anak-anaknya.

Both of them ideal dimataku, hanya saja aku belum menjadi putri yang ideal dimata mereka, Maafkan nadya ayah-ummi.

aku dan pengantin gaza

Aku tak mengenalmu duhai abbas
aku juga tak mengenal kawanmu fatih
Atau sederet filastine-filastine kecil lain

mujahid  kecil
Ini dariku
1000 rupiah
2000 rupiah
10.000 rupiah
Ambil,ambil saja
Untuk memuluskan pertemuan kalian dengan bidadari

Ayo, ayo teman
Beberapa menit lagi pesta dimulai
Kau, kau dan kau pengantinnya
Maaf, aku tak menghadirinya
Pun untuk sekedar mengucapkan selamat padamu
sampaikan saja salamku pada bidadari

Aku tak mengenalmu duhai Abbas
aku juga tak mengenal kawanmu fatih
Atau sederet filastine-filastine kecil lain
Tapi berharap dipertemukan dengan kalian dalam mimbar-mimbar cahaya

“orang yang ukhuwwah karna Allah akan dibangkitkan dengan wajah bercahaya dan ditempatkan dalam mimbar-mimbar cahaya”

Persahabatan antara diabetes dan masalah rongga mulut

Diabetes adalah suatu penyakit metabolic ditandai dengan peningkatan glukosa darah, dimana tubuh tidak memproduksi atau memakai insulin dengan baik diikuti komplikasi vascular dan neuropati, ini definisi diabetes menurut buku. Bingung? Sederhananya diabetes adalah yang lazim disebut dengan penyakit gula. Pertanyaannya, apa hubungannya dengan dokter gigi, itu kan kerjaan dokter umum. Nah disini saya akan meluruskannya, diabetes bukan hanya pekerjaan dokter, tapi juga dokter gigi. Infeksi yang terjadi pada rongga mulut salah satunya periodontitis,  halah ini apalagi? (Periodontitis itu adalah penyakit yang disebabkan bakteri yang merusak tulang tempat melekatnya gigi dan menyebabkan gigi-geligi menjadi goyang bahkan copot dengan tiba-tiba) bisa menyebabkan penyakit diabetes? Jika karang gigi atau plak anda banyak, kemudian terjadi infeksi perodontitis, Bakteri yang menyebabkan periodontitis bisa masuk kealiran darah dan mengganggu kerja hormone insulin tadi, maka bersiap-siap anda akan menjadi langganan dokter penyakit dalam. Atau sebaliknya, anda menderita diabetes, ini akan meningkatkan kerusakan tulang alveolar tempat melekatnya gigi, sehingga menyebabkan hampir seluruh gigi yang ada dirongga mulut goyang.

 

Nah sekarang jadi tau kan, ternyata masalah dalam rongga mulut itu bersahabat dengan penyakit diabetes dan juga beberapa penyakit lain. Seringkali pada penderita diabetes tidak mengetahui bahwa ia telah menderita penyakit ini. Dan sering dokter gigi yang menjadi penemu pertama penyakit ini. Pasien datang ke dokter gigi dengan keluhan gigi goyang dengan plak atau karang gigi yang tidak terlalu banyak, mulut kering, bila ditempelkan kaca mulut pada mukosanya akan lengket. Pasien seperti ini harus ditanyakan bagaimana pola makan,minum, pembuangan urine dan perubahan berat badan. Jika jawaban pasien banyak makan, minum, sering pipis dan mengalami penurunan berat badan drastis, maka pasien ini diduga menderita diabetes. Jadi, hati-hati dengan gigi anda yang goyang atau copot dengan tiba-tiba. Rajin membersihkan rongga mulut agar tidak terjadi periodontitis yang berakhir dengan diabetes. Selalu periksakan gigi rutin ke dokter gigi 6 bulan sekali.

*tapi kalo anda diabetes saya tidak menyarankan untuk mengobati diabetes anda ke dokter gigi lho! Tetap saja untuk pengobatan diabetes hubungi internist atau ahli penyakit dalam, karna itu bukan gawe-an kami.

* berbagi ilmu, terkhusus untuk para calon dokter gigi, calon dokter, dokter dan dokter gigi, dan untuk semua orang yang belum tau tentang ini

Be a smart dentist

Previous Older Entries Next Newer Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.